Starlink vs AST SpaceMobile, Masa Depan Seluler Satelit

Starlink dan AST SpaceMobile mengembangkan teknologi yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit. Persaingan keduanya berpotensi memperluas jangkauan telekomunikasi, termasuk di Indonesia.

Starlink vs AST SpaceMobile, Masa Depan Seluler Satelit
Persaingan Starlink dan AST SpaceMobile mendorong pengembangan teknologi komunikasi seluler berbasis satelit yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke jaringan di luar jangkauan BTS konvensional. (FD/AI)

Frame Daily, Jakarta - Industri telekomunikasi mulai memasuki fase baru dengan hadirnya teknologi Direct-to-Cell atau Direct-to-Device, yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa bergantung sepenuhnya pada menara Base Transceiver Station (BTS).

Dua perusahaan yang mengembangkan teknologi ini adalah Starlink, bagian dari SpaceX, dan AST SpaceMobile. Keduanya menargetkan perluasan konektivitas ke wilayah yang sulit dijangkau jaringan seluler konvensional, tetapi menggunakan pendekatan teknis berbeda.

Starlink memanfaatkan ekosistem konstelasi satelitnya untuk mengembangkan layanan seluler langsung ke perangkat. Sementara itu, AST SpaceMobile membangun satelit BlueBird dengan antena berukuran besar untuk mendukung konektivitas broadband langsung ke ponsel melalui kemitraan dengan operator seluler.

Starlink mengembangkan Direct to Cell dengan melengkapi satelitnya menggunakan sistem komunikasi yang dirancang menyerupai stasiun pangkalan seluler di orbit. Teknologi ini memungkinkan perangkat yang kompatibel terhubung ketika berada di luar jangkauan BTS, bergantung pada ketersediaan layanan dan operator mitra.

Strategi Starlink bertumpu pada pengembangan jaringan satelit dan integrasi dengan operator telekomunikasi. Namun, kemampuan mengirim pesan atau mengakses internet melalui satelit tetap bergantung pada perangkat, spektrum frekuensi, kondisi koneksi, serta cakupan layanan yang tersedia.

Teknologi Direct-to-Device memungkinkan ponsel yang kompatibel terhubung langsung ke satelit. Teknologi ini berpotensi memperluas jangkauan komunikasi di wilayah terpencil yang belum terlayani jaringan seluler secara memadai. (FD/AI)

AST SpaceMobile Mengejar Kapasitas Broadband

AST SpaceMobile mengembangkan satelit BlueBird dengan antena phased array berukuran besar untuk mendukung konektivitas broadband langsung ke ponsel biasa. Perusahaan ini bekerja sama dengan operator seluler agar jaringan satelit dapat melengkapi infrastruktur terestrial.

Spesifikasi teknis dan kecepatan maksimum yang diumumkan perusahaan tidak selalu mencerminkan pengalaman setiap pengguna. Kinerja aktual bergantung pada kapasitas jaringan, jumlah pengguna, kondisi koneksi, dan konfigurasi layanan.

Karena itu, persaingan kedua perusahaan tidak cukup dinilai dari jumlah satelit atau kecepatan puncak. Cakupan, kapasitas jaringan, efisiensi biaya, dan kemampuan menghadirkan layanan secara konsisten juga menjadi faktor penting.

Peluang bagi Indonesia

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan dalam memperluas jaringan telekomunikasi. Jarak antarpulau, kondisi geografis, dan biaya pembangunan infrastruktur dapat menyulitkan penyediaan BTS di sejumlah wilayah.

Teknologi koneksi langsung ke satelit berpotensi membantu memperluas akses komunikasi di daerah terpencil dan menyediakan alternatif konektivitas ketika infrastruktur darat terganggu akibat bencana. Bagi operator lokal, teknologi ini membuka peluang memperluas cakupan tanpa harus membangun BTS di setiap lokasi.

Meski demikian, penerapannya membutuhkan perhitungan biaya, kapasitas jaringan, kompatibilitas perangkat, dan model kerja sama bisnis. Penggunaan spektrum serta penyelenggaraan layanan juga harus memenuhi ketentuan regulator Indonesia.

Perkembangan teknologi di negara lain tidak otomatis berarti layanan Starlink Direct to Cell atau AST SpaceMobile telah tersedia secara komersial di Indonesia. Status operasional, izin, dan kemitraan lokal perlu dikonfirmasi melalui pengumuman resmi.

Jaringan satelit berpotensi melengkapi infrastruktur BTS untuk memperluas konektivitas di wilayah terpencil Indonesia. Jaringan terestrial tetap berperan penting dalam menyediakan kapasitas dan layanan komunikasi. (FD/AI)

BTS Tetap Penting dalam Jaringan Masa Depan

Konektivitas satelit tidak serta-merta menggantikan BTS. Jaringan darat tetap dibutuhkan untuk melayani kawasan padat penduduk dengan kebutuhan kapasitas tinggi, sedangkan satelit berpotensi memperluas cakupan ke wilayah yang sulit dijangkau.

Ke depan, jaringan telekomunikasi kemungkinan mengandalkan kombinasi BTS, serat optik, Wi-Fi, dan satelit. Keberhasilan model ini akan ditentukan oleh kualitas layanan, biaya, kemitraan operator, ketersediaan spektrum, serta kemampuannya memenuhi kebutuhan pengguna.

Bagi Indonesia, persaingan Starlink dan AST SpaceMobile membuka peluang memperluas konektivitas. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan secara ekonomis, sesuai regulasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sumber rujukan:

  • SpaceX: https://www.spacex.com/
  • Starlink: https://www.starlink.com/
  • AST SpaceMobile: https://ast-science.com/
  • Kementerian Komunikasi dan Digital RI: https://www.komdigi.go.id/
Ditulis oleh Shidarta

Media dan broadcast, penulis, journalist

Komentar