SBY Bongkar Syarat Indonesia Emas 2045, Ini Peringatannya

SBY mengingatkan Indonesia Emas 2045 bisa menjadi ilusi jika gagal bertransformasi. Ia meminta politikus mengutamakan kepentingan bangsa di atas partai.

SBY Bongkar Syarat Indonesia Emas 2045, Ini Peringatannya
Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan orasi ilmiah di Dies Natalis Fisip Unpad Ke-68, Selasa (13/10/2026)

Frame Daily, JAKARTA – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 berisiko menjadi ilusi jika bangsa ini gagal menjalankan transformasi besar. Ia menegaskan, masa depan Indonesia membutuhkan kepemimpinan negarawan yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partai politik maupun ambisi elektoral.

Pesan tersebut disampaikan SBY saat memberikan orasi ilmiah yang disiarkan melalui kanal YouTube Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad). Dalam kesempatan itu, ia mengajak para politikus, pemimpin, dan penyelenggara negara untuk tidak hanya berorientasi pada kepentingan jangka pendek.

"Mari bersama-sama bangsa ini, di samping lihat kepentingan jangka pendek, tapi juga melihat apa yang hendak kita raih pada jangka yang lebih panjang lagi," kata SBY, dikutip Kamis (15/10/2026).

Menurut SBY, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu melihat persoalan bangsa secara menyeluruh. Orientasi kepemimpinan harus melampaui agenda pemilu berikutnya agar keputusan politik yang diambil hari ini tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

SBY Tekankan Negara Harus di Atas Partai

Dalam orasi ilmiah tersebut, SBY membedakan pola pikir politikus dengan negarawan. Ia mengakui keinginan untuk kembali terpilih dalam pemilihan umum merupakan hal yang wajar bagi seseorang yang menjalankan karier politik.

"Politisi biasanya yang dipikirkan pemilu berikutnya lagi, betul? Kalau gubernur, bupati, wali kota, presiden, semoga terpilih kembali, itu sah, tidak salah, anggota DPR, DPRD, DPD, terpilih kembali, itu tidak salah, politisi," ujar SBY.

Meski demikian, menurut dia, tanggung jawab seorang negarawan menuntut cakrawala berpikir yang lebih panjang. Seorang pemimpin tidak cukup hanya menghitung keuntungan politik yang dapat diperoleh dalam periode kekuasaan saat ini.

SBY menegaskan, kepentingan nasional harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan strategis. Ia menyampaikan prinsip tersebut melalui ungkapan berbahasa Inggris, country over party, yang berarti negara harus ditempatkan di atas kepentingan partai.

"Country first. Jangan dibalik. Jangan partai politik yang diutamakan. Negaranya belakangan, wrong," tegasnya.

SBY juga menekankan bahwa sikap negarawan tidak hanya dapat dimiliki mantan presiden atau pejabat tinggi negara. Menurut dia, setiap orang dapat menunjukkan karakter kenegarawanan selama bersedia memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompoknya.

Pandangan tersebut menempatkan kualitas kepemimpinan sebagai salah satu faktor penting dalam menentukan arah pembangunan nasional. Keputusan politik, menurut pesan yang disampaikan SBY, semestinya mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi masyarakat dan keberlanjutan negara.

Indonesia Emas 2045 Harus Realistis

SBY turut menyoroti target Indonesia Emas 2045, yakni cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara maju menjelang satu abad kemerdekaan. Ia mengingatkan agar visi besar tersebut tidak berhenti sebagai slogan atau optimisme tanpa perhitungan yang matang.

Dalam menyampaikan pandangannya, SBY mengaku cenderung konservatif dalam memandang target pembangunan nasional. Ia bahkan menyisipkan kata "insyaallah" ketika membicarakan kemungkinan Indonesia mencapai status negara emas pada 2045.

"Saya ingin ajak teman-teman semua secara khusus melihat masa depan Indonesia kita, banyak yang katakan tahun 2045 kita akan mengalami Indonesia Emas, saya agak konservatif, tambahkan insyaallah," tutur SBY.

Ia kemudian menekankan bahwa penetapan tujuan harus didasarkan pada perhitungan yang masuk akal. Target pembangunan perlu disesuaikan dengan kemampuan negara, sumber daya yang tersedia, rentang waktu pelaksanaan, serta pengalaman sejarah dalam menjalankan pembangunan.

"Afterall yang ngerti manajemen tentu kita semua paham kalau menetapkan goal, tujuan, itu harus diyakini realistic dan do-able dan achievable," jelasnya.

Menurut SBY, visi Indonesia Emas 2045 harus ditopang kerja keras, pemikiran yang cerdas, dan integritas para penyelenggara negara. Ketiga unsur tersebut diperlukan agar cita-cita pembangunan tidak berhenti pada dokumen perencanaan, tetapi diterjemahkan menjadi perubahan nyata.

SBY Ingatkan Pemimpin Belajar dari Sejarah

Selain membahas kepemimpinan dan target pembangunan, SBY menyoroti pentingnya pemahaman sejarah bagi para pemimpin. Ia menilai, pengetahuan tentang perjalanan bangsa dapat menjadi bekal untuk menghindari kesalahan yang pernah terjadi pada masa lalu.

"Pemimpin yang tidak mengenal sejarah tends to repeat the mistake of history, sehingga siapa pun, pemimpin mana pun, pahami sejarah," ujar SBY.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa kebijakan publik perlu mempertimbangkan pengalaman, keberhasilan, serta kegagalan sebelumnya. Dengan memahami sejarah, pemimpin diharapkan mampu mengambil keputusan secara lebih cermat dan menghindari pengulangan persoalan yang merugikan masyarakat.

SBY juga mengangkat peran institusi dan tata kelola negara dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu bangsa. Menurut dia, kualitas kelembagaan dan cara negara dikelola menjadi bagian penting yang perlu direnungkan bersama.

"Kalau saya rangkum satu kata saja atau beberapa kata saja why nations succeed? And why nations fail? Itu ditentukan institusi dan tata kelola negara, saya tak mau elaborasi, mari kita renungkan," lanjutnya.

Pernyataan itu memperluas pembahasan Indonesia Emas 2045 dari sekadar target ekonomi menjadi persoalan kualitas pemerintahan. Pembangunan nasional membutuhkan institusi yang berfungsi dengan baik, tata kelola yang bertanggung jawab, serta pemimpin yang mampu menjaga integritas dalam menjalankan kewenangannya.

Gagal Bertransformasi, Indonesia Emas Jadi Ilusi

Pada bagian akhir orasinya, SBY menegaskan bahwa Indonesia harus menjalankan transformasi besar untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara maju. Ia menggambarkan Indonesia bukan sekadar bangsa yang menunggu kesempatan atau bergerak menuju kemajuan, melainkan bangsa yang harus berani melakukan perubahan mendasar.

"Indonesia bukan nation in waiting, bukan hanya nation on the move, tetapi bangsa yang menjalankan great transformations," kata SBY.

Ia kemudian menyampaikan peringatan tegas mengenai masa depan Indonesia apabila perubahan tersebut tidak terlaksana.

"Kalau kita gagal bertransformasi, Indonesia Emas 2045 itu ilusi," pungkasnya.

Pernyataan SBY menempatkan transformasi nasional sebagai tantangan utama dalam perjalanan Indonesia menuju 2045. Pencapaian target tersebut memerlukan arah kebijakan yang konsisten, institusi yang kuat, tata kelola yang baik, serta kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang.

Pesan kenegarawanan yang disampaikan SBY juga menegaskan pentingnya menempatkan kepentingan bangsa di atas persaingan politik jangka pendek. Bagi Indonesia, cita-cita menjadi negara maju tidak hanya bergantung pada besarnya target yang ditetapkan, tetapi juga pada kemampuan para pemimpin dan seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan perubahan secara nyata.

Ditulis oleh Nurmalita Aninditya

Komentar