Reza Rahadian Bawa Kisah Sang Nenek 'Casparina' ke Busan International Film Festival

Film ini mengangkat kisah nyata sang nenek, Francisca Casparina Fanggidaej, seorang jurnalis yang kehilangan kewarganegaraannya pasca-peristiwa 1965 dan harus terpisah selama 32 tahun dari anak-anaknya.

Reza Rahadian Bawa Kisah Sang Nenek 'Casparina' ke Busan International Film Festival
Aktor sekaligus sutradara Reza Rahadian memperkenalkan proyek film panjang terbarunya berjudul Casparina di ajang Asian Project Market (APM), bagian dari Busan International Film Festival (BIFF) (Dok. Instagram @officialpilarez)

Frame Daily, Jakarta — Langkah Reza Rahadian di kancah perfilman internasional semakin mantap. Setelah sukses menyita perhatian lewat debut sutradaranya, Reza kini siap kembali menghentak dunia sinema dengan proyek film fitur keduanya yang berjudul Casparina. Tak tanggung-tanggung, Reza memilih panggung Busan International Film Festival (BIFF) untuk memperkenalkan proyek terbarunya tersebut kepada dunia.

Berdasarkan pantauan frame daily, proyek film Casparina resmi diboyong Reza Rahadian untuk tampil di Asian Project Market (APM). Ajang yang merupakan bagian integral dari Asian Contents & Film Market (ACFM) di BIFF tersebut menjadi wadah strategis bagi para pembuat film untuk menjajaki peluang kerja sama internasional. Melalui program ini, pihak produser dan tim produksi berharap dapat menjalin kemitraan dengan calon investor, distributor, hingga kolaborator global guna mendukung proses pendanaan serta ko-produksi film.

Berbeda dari karya-karya sebelumnya, Casparina membawa bobot emosional dan sejarah yang amat personal bagi Reza. Cerita dalam film ini diangkat langsung dari penderitaan dan perjalanan hidup nenek kandungnya sendiri, Francisca Casparina Fanggidaej. Francisca merupakan seorang jurnalis serta pejuang perempuan Indonesia yang nasibnya berubah drastis akibat turbulensi politik pada tahun 1965.

Kisah kelam tersebut bermula ketika Francisca sedang menjalankan tugas negara sebagai wakil Indonesia dalam sebuah forum internasional di Beijing, Tiongkok, pada 1965. Di tengah dinamika pergantian kekuasaan di tanah air, kewarganegaraan Indonesia milik Francisca mendadak dicabut secara sepihak oleh rezim Orde Baru akibat sikap politiknya yang konsisten dan kritis terhadap pemerintahan baru kala itu.

Keputusan tersebut memaksa Francisca hidup terlunta-lunta dalam pengasingan politik di luar negeri selama 32 tahun. Ia harus menghabiskan puluhan tahun hidupnya berpindah dari Beijing hingga akhirnya menetap di Belanda, terpisah jauh dari tanah air dan keluarga tercinta. Pukulan terberat bagi Francisca bukanlah sekadar kehilangan status kewarganegaraan, melainkan keharusan meninggalkan enam orang buah hatinya yang masih kecil di Indonesia.

Dalam narasi film Casparina, fokus cerita diarahkan pada momen emosional pasca-runtuhnya rezim otoriter yang selama ini membelenggunya. Setelah berpuluh-puluh tahun hidup terbuang, Francisca akhirnya mendapatkan kebebasannya untuk kembali ke tanah air. Namun, kepulangan tersebut tidak serta-merta membawa kebahagiaan yang sempurna.

Francisca harus menghadapi kenyataan pahit saat melangkah pulang dengan perasaan bimbang dan canggung. Ia harus menemui anak-anaknya, seperti Andi dan Lila, yang kini telah tumbuh dewasa tanpa pernah merasakan kehadiran, kasih sayang, maupun bimbingan seorang ibu di sisi mereka. Perjalanan untuk memulihkan trauma masa lalu, menyembuhkan luka batin, serta merajut kembali tali ikatan keluarga yang sempat terputus puluhan tahun menjadi inti dari drama emosional yang ditawarkan film ini.

Saat ini, proyek film Casparina dilaporkan masih berada dalam tahap awal penulisan naskah. Reza Rahadian tidak hanya bertindak sebagai sutradara, namun juga terlibat aktif dalam penyusunan jalan ceritanya agar nilai sejarah dan kedalaman emosi kekeluargaan tetap terjaga dengan autentik.

Kehadiran Casparina sekaligus menandai babak baru dalam karier penyutradaraan Reza Rahadian. Film ini menjadi karya fitur keduanya setelah sebelumnya sukses mencuri perhatian publik lewat film debutnya yang berjudul Pangku.

Sebelumnya, lewat film Pangku, Reza berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan memboyong empat penghargaan bergengsi dalam kategori Vision pada ajang Festival Film Busan 2025. Beberapa di antaranya termasuk penghargaan bergengsi pilihan penonton (Audience Award) serta penghargaan dari Federasi Kritik Film Internasional (Fipresci Award).

Rekor manis yang diraihnya lewat Pangku tentu menjadi modal kepercayaan diri yang besar bagi Reza dan tim dalam menggarap Casparina. Dukungan dan antusiasme dari komunitas film internasional di Busan diharapkan mampu memuluskan jalan bagi film Casparina hingga akhirnya siap diproduksi dan tayang di layar lebar.

Kisah Francisca Casparina Fanggidaej bukan sekadar potret luka keluarga Reza Rahadian semata, melainkan refleksi dari sejarah kelam kemanusiaan dan kebebasan berpendapat di Indonesia yang layak diangkat ke panggung sinema dunia.

Ditulis oleh Defi

Komentar