Frame daily, jakarta - Dinamika politik Brasil berpotensi memengaruhi agenda mitigasi perubahan iklim global. Hashim Djojohadikusumo selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi menyoroti kemungkinan perubahan posisi Brasil terhadap Perjanjian Paris jika calon presiden Flávio Bolsonaro terpilih.
Hashim mengangkat isu tersebut saat membahas geopolitik dan kebijakan iklim dalam konferensi pers pada senin sore (12/10/2026). Menurut Hashin, perubahan sikap Brasil terhadap kesepakatan iklim internasional dapat berdampak pada upaya pengurangan emisi, terutama karena negara itu memiliki kawasan hutan tropis yang sangat luas.
“Masalahnya bagi kita, presiden nanti kalau sudah terpilih, calon Presiden Flávio Bolsonaro sudah komit untuk mundur dari Perjanjian Paris atau Kesepakatan Paris, COP 21. Dia mau ikut Presiden Trump Amerika untuk keluar dari Paris Agreement,” kata Hashim dalam konferensi pers tersebut.
Hashim menilai kemungkinan tersebut perlu menjadi perhatian negara-negara yang terlibat dalam diplomasi iklim. Ia mengaitkannya dengan peran Brasil dan Indonesia dalam menjaga hutan tropis serta menjalankan program mitigasi perubahan iklim.
Hashim soroti dampak terhadap mitigasi iklim
Hashim menyebut Brasil memiliki kawasan hutan tropis yang sangat luas, disusul Republik Demokratik Kongo dan Indonesia. Ia menilai perubahan kebijakan Brasil dapat berpengaruh terhadap agenda mitigasi iklim yang dijalankan bersama oleh berbagai negara.
“Jadi ini pasti berdampak negatif terhadap program-program mitigasi perubahan iklim. Jadi ini saya kira kawan-kawan Paris harus juga peka terhadap perkembangan geopolitik, khususnya yang berdampak pada lingkungan hidup,” ujar Hashim
Pernyataan tersebut menempatkan perkembangan politik Brasil sebagai salah satu faktor geopolitik yang perlu diperhatikan dalam kerja sama iklim internasional. Perjanjian Paris merupakan kesepakatan global yang menjadi kerangka kerja negara-negara untuk membatasi kenaikan suhu bumi dan memperkuat upaya menghadapi perubahan iklim.
Brasil memasuki putaran kedua pemilihan presiden
Pemilihan presiden Brasil 2026 menjadi perhatian internasional setelah putaran pertama menghasilkan persaingan ketat antara Presiden Luiz Inácio Lula da Silva dan Flávio Bolsonaro. Reuters melaporkan Flávio unggul tipis atas Lula dalam putaran pertama, sehingga keduanya melanjutkan persaingan menuju putaran kedua pada 25 Oktober 2026.
Arah kebijakan iklim menjadi salah satu isu yang perlu dicermati dalam kontestasi tersebut. Program Flávio Bolsonaro memuat janji mengakhiri deforestasi ilegal pada 2029, tetapi dokumen program dan pernyataan resmi kandidat tetap perlu diperiksa secara khusus untuk memastikan posisi mereka terhadap Perjanjian Paris.
Karena itu, pernyataan Hashim mengenai komitmen Flávio untuk menarik Brasil dari perjanjian tersebut perlu dibedakan dari posisi resmi yang tercantum dalam dokumen kampanye. Konfirmasi langsung kepada kandidat atau tim kampanyenya diperlukan untuk memastikan apakah komitmen penarikan itu benar-benar dinyatakan secara terbuka.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan dengan agenda diplomasi iklim, perlindungan hutan tropis, dan kerja sama internasional untuk menekan emisi. Sebagaimana ditekankan Hashim, kebijakan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh target teknis, tetapi juga oleh perubahan politik dan keputusan pemerintah di tingkat global.
Komentar