Frame Daily, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak orang tua dan tenaga pendidik membangun kebiasaan digital yang sehat pada anak melalui pendampingan serta keseimbangan antara aktivitas di internet dan kegiatan fisik di luar ruangan.
Dalam laporan ANTARA yang diterbitkan Sabtu (10/10), Meutya menekankan pentingnya mendorong anak melakukan aktivitas seperti berolahraga, bersepeda, membangun pertemanan, dan mengembangkan bakat melalui kegiatan di luar ruangan.
“Sekali lagi saya mengajak orang tua dan tenaga pendidik untuk ikut membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan perlu berjalan bersama upaya menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara langsung,” kata Meutya, dikutip dari ANTARA.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Meutya berdialog dengan para siswa dalam kegiatan sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS di Tabanan, Bali, Jumat (9/10).
Dalam kegiatan itu, Meutya berinteraksi dengan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Dia juga bertemu anggota komunitas pesepeda untuk menunjukkan manfaat aktivitas fisik bersama komunitas.
PP TUNAS Atur Akses Anak ke Platform Digital
Meutya menjelaskan bahwa ruang digital menyediakan kesempatan bagi anak untuk belajar dan memperoleh informasi. Di sisi lain, penggunaan teknologi juga menghadirkan risiko apabila tidak disesuaikan dengan usia dan tingkat kesiapan anak.
Pemerintah menerbitkan PP TUNAS untuk memperkuat perlindungan anak dari risiko penggunaan platform digital yang tidak sesuai dengan usia dan tingkat kematangan mereka. Peraturan tersebut mencakup pembatasan akses anak berusia di bawah 16 tahun terhadap platform digital berisiko tinggi.
Meutya mengibaratkan pembatasan tersebut seperti aturan keselamatan dalam penggunaan kendaraan. Menurutnya, anak perlu menunggu sampai memiliki kesiapan yang memadai sebelum mengakses layanan digital yang berisiko tinggi.
“Bukannya dilarang seumur hidup naik mobil, tapi tunggu mereka siap. Karena jalanan itu berbahaya untuk anak kecil. Demikian juga sosial media, game online yang kita anggap risikonya tinggi,” ujar Meutya.
Pendekatan tersebut menekankan pentingnya mempertimbangkan usia dan kesiapan anak dalam menggunakan teknologi, terutama pada layanan yang berpotensi menghadirkan risiko bagi keselamatan dan perkembangan mereka.
Anak Perlu Waspada terhadap Kejahatan Siber
Selain pembatasan akses, Meutya mengingatkan para siswa agar berhati-hati ketika berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal melalui internet. Ancaman yang perlu diwaspadai meliputi penipuan, perundungan siber, hingga pendekatan yang berpotensi mengarah pada eksploitasi anak.
Menurut Meutya, anak perlu mendapatkan pemahaman mengenai risiko penggunaan platform digital sebelum terlibat dalam berbagai aktivitas di internet. Pengetahuan tersebut penting agar mereka mampu mengenali situasi berbahaya dan mengambil keputusan yang lebih aman.
“Perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menetapkan batas usia. Anak perlu memahami alasan di balik aturan tersebut agar dapat mengenali risiko dan mengambil keputusan yang lebih aman ketika menggunakan teknologi,” tambah meutya.

Edukasi digital juga membutuhkan keterlibatan orang tua dan guru. Anak perlu mengetahui batasan dalam berinteraksi di internet serta memahami pentingnya meminta bantuan orang dewasa ketika menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak aman.
Platform Digital dan Keluarga Berperan dalam Perlindungan Anak
Meutya menjelaskan bahwa PP TUNAS menggunakan pendekatan berbasis risiko. Melalui mekanisme tersebut, platform digital bertanggung jawab memenuhi ketentuan perlindungan anak sesuai dengan karakteristik dan profil risiko layanan masing-masing.
Sementara itu, orang tua dan tenaga pendidik diharapkan mendampingi anak, menjelaskan batasan penggunaan teknologi, serta membantu menyelesaikan persoalan yang muncul di ruang digital.
Pendampingan tersebut perlu disertai kesempatan bagi anak untuk beraktivitas di luar internet. Kegiatan olahraga, permainan, interaksi langsung, dan pengembangan minat dapat membantu anak membangun keterampilan sosial sekaligus menjaga keseimbangan aktivitas sehari-hari.
Pesan utama yang disampaikan Meutya adalah bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak cukup mengandalkan aturan. Edukasi, pendampingan keluarga, keterlibatan sekolah, dan tanggung jawab platform digital juga diperlukan agar anak dapat memanfaatkan teknologi secara lebih aman sesuai usia dan tingkat kesiapan mereka.
Komentar