Frame Daily, Jakarta – Hot yoga menjadi salah satu tren olahraga yang banyak diminati karena diklaim mampu meningkatkan fleksibilitas tubuh, membakar kalori lebih banyak, hingga membantu mengurangi stres. Namun, latihan yoga yang dilakukan di ruangan bersuhu tinggi ini ternyata tidak cocok untuk semua orang. Para ahli mengingatkan bahwa hot yoga berbahaya bagi penderita jantung, terutama mereka yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah tidak stabil, atau gangguan irama jantung.
Berbeda dengan yoga konvensional, hot yoga dilakukan di ruangan dengan suhu sekitar 35–40 derajat Celsius dan tingkat kelembapan yang tinggi. Kondisi tersebut membuat tubuh berkeringat lebih banyak sehingga memaksa sistem kardiovaskular bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tubuh tetap normal. Lalu, mengapa hot yoga bisa berisiko bagi penderita penyakit jantung? Berikut penjelasannya.
Mengapa Hot Yoga Berbahaya bagi Penderita Jantung?
Saat berolahraga di lingkungan bersuhu tinggi, pembuluh darah akan melebar dan denyut jantung meningkat untuk membantu membuang panas dari tubuh. Akibatnya, jantung harus memompa darah lebih cepat dibandingkan saat berolahraga di suhu normal.
Bagi orang yang sehat, respons tersebut umumnya masih dapat ditoleransi. Namun, pada penderita penyakit jantung, kondisi ini dapat meningkatkan beban kerja jantung sehingga memicu berbagai keluhan, mulai dari nyeri dada, sesak napas, pusing, hingga jantung berdebar.
Dikutip dari Kompas.com, dokter spesialis jantung menjelaskan bahwa suhu panas dapat menyebabkan perubahan tekanan darah dan meningkatkan risiko dehidrasi. Bila tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat memperburuk penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, kehilangan cairan dan elektrolit akibat keringat berlebih juga berpotensi memicu gangguan irama jantung pada sebagian orang.
Siapa yang Sebaiknya Tidak Mengikuti Hot Yoga?
Tidak hanya penderita penyakit jantung, ada beberapa kelompok yang juga disarankan berhati-hati sebelum mengikuti kelas hot yoga. Mereka antara lain penderita hipertensi yang belum terkontrol, pasien gagal jantung, penderita penyakit jantung koroner, individu dengan riwayat gangguan irama jantung, lansia, hingga ibu hamil.
Orang yang sedang mengonsumsi obat diuretik atau obat penurun tekanan darah juga sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Sebab, obat-obatan tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi ketika tubuh kehilangan banyak cairan selama berolahraga.
Bagi siapa pun yang memiliki riwayat mudah pingsan, mengalami heat exhaustion, atau sensitif terhadap suhu panas, hot yoga sebaiknya dihindari hingga mendapat rekomendasi dari tenaga medis.
Manfaat Hot Yoga Tetap Ada, tetapi Tidak untuk Semua Orang
Di balik risikonya, hot yoga tetap memiliki sejumlah manfaat apabila dilakukan oleh orang yang sehat dan sesuai prosedur. Latihan ini dapat membantu meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi, memperbaiki keseimbangan tubuh, meningkatkan kebugaran kardiovaskular, sekaligus memberikan efek relaksasi melalui teknik pernapasan dan meditasi.
Namun, anggapan bahwa semakin banyak berkeringat berarti semakin sehat tidak sepenuhnya benar. Keringat yang keluar lebih banyak bukan berarti tubuh membakar lemak lebih banyak, melainkan menunjukkan tubuh sedang berusaha menurunkan suhu agar tetap stabil. Karena itu, manfaat hot yoga harus diimbangi dengan persiapan yang tepat, termasuk memenuhi kebutuhan cairan sebelum dan sesudah latihan.
Tips Aman Mengikuti Hot Yoga
Bagi masyarakat yang ingin mencoba hot yoga, ada beberapa tips dan langkah yang dapat dilakukan agar latihan tetap aman.
Pertama, pastikan tubuh dalam kondisi sehat dan tidak sedang mengalami demam atau dehidrasi.
Kedua, minum air putih yang cukup sebelum memasuki kelas dan tetap mengganti cairan tubuh setelah latihan selesai.
Ketiga, kenali batas kemampuan tubuh. Bila muncul keluhan seperti pusing, mual, jantung berdebar, sesak napas, atau pandangan mulai kabur, segera hentikan latihan dan pindah ke tempat yang lebih sejuk.
Pemula juga disarankan tidak memaksakan diri mengikuti seluruh sesi. Tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi terhadap suhu tinggi sehingga intensitas latihan dapat ditingkatkan secara bertahap.

Konsultasi Dokter Sebelum Memulai
Dokter mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Oleh karena itu, memilih jenis olahraga sebaiknya tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mempertimbangkan kondisi medis masing-masing.
Bagi penderita penyakit jantung atau mereka yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular, pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti hot yoga menjadi langkah penting untuk memastikan aktivitas tersebut aman dilakukan.
Jika dinilai berisiko, dokter biasanya akan menyarankan alternatif olahraga lain seperti yoga biasa, jalan cepat, berenang, atau bersepeda dengan intensitas ringan hingga sedang yang tetap memberikan manfaat bagi kesehatan jantung.
Pada akhirnya, hot yoga berbahaya bagi penderita jantung apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan. Meski menawarkan berbagai manfaat, olahraga ini tidak dapat disamakan untuk semua orang. Mengenali kemampuan tubuh, berkonsultasi dengan dokter, serta mengikuti latihan sesuai rekomendasi menjadi langkah terbaik agar manfaat olahraga dapat diperoleh tanpa meningkatkan risiko terhadap kesehatan.
Komentar