Gerakan Patungan untuk Hutan Ferry Irwandi Tembus Rp10,5 Miliar

Inisiatif publik "Patungan untuk Hutan" yang digagas kreator konten Ferry Irwandi berhasil menghimpun dana sebesar Rp10.519.523.391 per 15 Oktober 2026 melalui platform Kitabisa. Didukung lebih dari 126 ribu donatur, dana tersebut difokuskan pada tiga pilar utama.

Gerakan Patungan untuk Hutan Ferry Irwandi Tembus Rp10,5 Miliar
Penggalangan dana "Patungan untuk Hutan" yang digagas Ferry Irwandi melalui platform Kitabisa, berhasil menghimpun dana publik lebih dari Rp10,5 miliar per Kamis (15/10/2026) untuk mitigasi dan penanganan karhutla (Dok. Instagram @irwandiferry)

Frame Daily, Jakarta — Di tengah ancaman krisis iklim global dan maraknya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di berbagai pelosok Indonesia, sebuah titik terang lahir dari inisiatif akar rumput masyarakat sipil. Gerakan sosial bertajuk “Patungan untuk Hutan” yang diinisiasi oleh pembuat konten dan aktivis media sosial Ferry Irwandi berhasil mencatatkan pencapaian luar biasa.

Hingga Kamis (15/10/2026), total dana masyarakat yang terkumpul melalui platform penggalangan dana digital Kitabisa telah menembus angka Rp10,51 Miliar (tepatnya Rp10.519.523.391). Angka fantastis ini terhimpun hanya dalam kurun waktu kurat dari dua bulan sejak kampanye ini resmi diperkenalkan ke publik pada 2 September 2026.

Berdasarkan data transparansi publik pada kampanye tersebut, dukungan finansial ini datang dari 126.451 transaksi donasi yang mengalir tanpa henti dari warga sipil yang peduli akan kelestarian lingkungan hidup. Hingga pertengahan Oktober ini, tim pengelola kampanye telah melakukan 39 kali pencairan dana berkala untuk langsung diterjunkan ke lapangan.

Fenomena karhutla di Indonesia telah menjadi persoalan tahunan yang membawa dampak sistematis, mulai dari pencemaran udara regional, kerusakan habitat satwa endemik, hingga ancaman langsung terhadap kesehatan serta mata pencaharian masyarakat lokal. Bencana ekologis ini kerap membutuhkan penanganan yang cepat, presisi, dan terintegrasi di lapangan—suatu hal yang sering kali terkendala oleh birokrasi yang kaku.

Melihat kondisi tersebut, gerakan "Patungan untuk Hutan" dirancang bukan sekadar aksi karitatif sesaat, melainkan gerakan terstruktur yang menetapkan target penggalangan dana sebesar Rp50 miliar. Seluruh perolehan dana difokuskan pada tiga pilar utama penanganan krisis hutan, yaitu:

  1. Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan: Penyediaan alat pemadam cepat tanggap, pelatihan relawan lokal, serta pemetaan titik rawan api (hotspot).
  2. Respons Kedaruratan: Penyaluran bantuan logistik, masker respirator, medis, serta evakuasi warga dan satwa terdampak asap saat titik api membakar kawasan pemukiman atau hutan lindung.
  3. Restorasi Ekosistem Hutan: Program jangka panjang penanaman kembali kawasan yang terlanjur terbakar, rehabilitasi lahan kritis, serta pemulihan keanekaragaman hayati.

Strategi penyaluran dana tidak terpusat di satu wilayah saja, melainkan menyasar tiga pulau besar yang menjadi paru-paru dunia sekaligus benteng utama ekosistem Indonesia: Kalimantan, Papua, dan Sumatra.

Berdasarkan pantauan Frame Daily, proses distribusi serta eksekusi bantuan sosial-lingkungan ini dilakukan secara berjejaring bersama tim lokal yang telah lama menguasai medan di masing-masing wilayah. Langkah kolaboratif ini diambil guna memastikan bahwa setiap rupiah donasi publik tersalurkan secara efektif, Tepat sasaran, serta tepat guna sesuai kebutuhan spesifik di tapak bencana.

Di Kalimantan dan Sumatra, bantuan diprioritaskan pada dukungan operasional bagi Manggala Agni dan kelompok masyarakat peduli api (MPA) yang berjuang memadamkan api di lahan gambut yang sulit dijangkau. Sementara di Papua, alokasi diarahkan pada perlindungan kawasan hutan adat serta upaya pencegahan pembukaan lahan ilegal yang rentan memicu kebakaran saat musim kemarau.

Melalui penyataan resminya, Ferry Irwandi menyampaikan apresiasi mendalam kepada lebih dari seratus ribu donatur yang telah menyisihkan rezekinya untuk keberlangsungan hutan Indonesia. Ia menekankan pentingnya keterbukaan dan akuntabilitas publik dalam setiap rupiah yang dialokasikan.

Untuk menjaga transparansi publik, seluruh pembaruan informasi mengenai penyaluran dana, daftar belanja logistik, hingga laporan kegiatan lapangan diunggah secara berkala melalui akun Instagram resmi @patunganuntukhutan, email, serta halaman transparansi di Kitabisa. Publik diajak untuk tidak hanya berdonasi, tetapi juga bertindak sebagai pengawas independen atas jalannya aksi ini.

Fenomena keberhasilan penggalangan dana puluhan miliar rupiah ini mendapat respons yang sangat positif di ruang publik dan media sosial. Banyak pihak menilai keberhasilan gerakan ini sebagai refleksi tingginya kepedulian serta nilai gotong royong masyarakat Indonesia di tengah isu-isu lingkungan yang kian memprihatinkan.

Di tengah rasa frustrasi publik terhadap lambatnya respons penanganan bencana lingkungan, kehadiran aksi kolektif seperti ini membuktikan bahwa masyarakat sipil memiliki kekuatan besar untuk menjadi agen perubahan. Angka Rp10,5 miliar yang terkumpul sejauh ini bukan sekadar deretan nominal uang, melainkan wujud nyata dari kepedulian ratusan ribu kepala yang merindukan udara bersih, hutan yang lestari, serta masa depan bumi Indonesia yang lebih aman bagi generasi mendatang.

Meskipun pencapaian ini masih sekitar 21 persen dari target utama Rp50 miliar, konsistensi penyaluran bantuan di lapangan diyakini akan terus mendorong gelombang kebaikan dan dukungan dari berbagai pihak, baik individu, komunitas, maupun sektor swasta, untuk ikut serta menjaga benteng hijau Nusantara.

Ditulis oleh Defi

Komentar