Frame Daily, JAKARTA – Sebanyak 752 prajurit TNI Angkatan Laut (TNI AL) resmi menyandang baret ungu Korps Marinir setelah menyelesaikan Pendidikan Komando (Dikko) Angkatan ke-180 dengan ujian akhir berupa lintas medan sejauh 300 hingga 350 kilometer. Perjalanan panjang selama belasan hari dari Banyuwangi menuju Pantai Baruna, Malang Selatan, Jawa Timur, menjadi bagian dari pengujian ketahanan fisik, mental, disiplin, dan daya juang para prajurit.
Pembaretan dilaksanakan di Pantai Baruna pada Senin (12/10/2026). Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir Kolonel Marinir Rana Karyana menyampaikan informasi tersebut melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut Rana, lintas medan menjadi puncak rangkaian pendidikan komando yang harus diselesaikan sebelum para prajurit dikukuhkan sebagai bagian dari Korps Marinir TNI AL.
"Sebagai puncak latihan, para prajurit menjalani Tahap Lintas Medan (Limed) dengan berjalan kaki menempuh jarak 300 hingga 350 kilometer selama belasan hari," kata Rana, dikutip ANTARA, Selasa.
Pendidikan komando Marinir dirancang untuk membentuk prajurit yang mampu menghadapi tantangan medan berat dengan perlengkapan tempur lengkap. Penyelesaian tahapan tersebut menjadi salah satu syarat sebelum mereka resmi mengenakan baret ungu sebagai identitas Korps Marinir.
Lintas Medan Jadi Ujian Akhir Prajurit
Dalam tahap lintas medan, para peserta memulai perjalanan dari Banyuwangi dan mengakhirinya di Pantai Baruna, Malang Selatan. Mereka harus berjalan kaki menempuh ratusan kilometer sambil membawa perlengkapan tempur lengkap dan menghadapi beragam kondisi medan.
Rana menjelaskan bahwa perjalanan tersebut bukan sekadar ujian ketahanan fisik. Para prajurit juga diuji dari sisi mental, kedisiplinan, kemampuan bertahan, serta daya juang dalam menyelesaikan setiap tahapan latihan.
"Dengan membawa perlengkapan tempur lengkap, mereka melintasi berbagai medan berat sebagai ujian akhir ketahanan, disiplin, dan daya juang sebelum dikukuhkan sebagai Prajurit Petarung Korps Marinir," ujarnya.
Lintas medan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan prajurit yang dipersiapkan menghadapi berbagai penugasan. Kemampuan menjaga kondisi fisik, mengikuti prosedur, dan menyelesaikan tantangan secara disiplin merupakan aspek yang diuji selama pendidikan.
Menurut keterangan Dinas Penerangan Korps Marinir, seluruh peserta yang menyelesaikan rangkaian pendidikan tersebut berada dalam kondisi sehat dan selamat. Informasi ini disampaikan bersamaan dengan pelaksanaan pembaretan di Pantai Baruna.
Ratusan Bintara dan Tamtama Ikuti Pembaretan
Sebanyak 752 prajurit yang mengikuti pembaretan berasal dari dua kelompok pendidikan pertama prajurit karier TNI AL. Rinciannya, 453 orang merupakan lulusan Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) Prajurit Karier Angkatan ke-46 Gelombang I, sedangkan 299 lainnya lulusan Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) Prajurit Karier Angkatan ke-46 Gelombang I.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa peserta pendidikan komando berasal dari jalur bintara dan tamtama. Keduanya menjalani rangkaian pendidikan yang berorientasi pada pembentukan kemampuan dasar dan keterampilan khusus sebagai prajurit Korps Marinir.
Sebelum memasuki tahap lintas medan, para peserta telah menyelesaikan lima tahapan pendidikan, yakni Dasar Komando, Kelautan, Hutan Gunung, Perang Gerilya, dan Lawan Gerilya.
Setiap tahapan menjadi bagian dari proses pembentukan kemampuan prajurit dalam menghadapi karakteristik operasi yang berbeda. Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan lintas medan sebagai ujian akhir sebelum pembaretan.
Baret Ungu Jadi Simbol Kehormatan Marinir
Penyematan baret ungu menandai keberhasilan para peserta menyelesaikan Pendidikan Komando Angkatan ke-180. Pengukuhan tersebut sekaligus menegaskan identitas mereka sebagai prajurit petarung Korps Marinir TNI AL.
Bagi para prajurit, baret ungu bukan sekadar kelengkapan seragam. Atribut tersebut menjadi simbol kehormatan, identitas korps, serta tanggung jawab yang harus dijaga dalam menjalankan tugas pertahanan negara.
Rana berharap pengalaman selama pendidikan dapat membentuk prajurit yang tangguh, disiplin, dan siap menghadapi berbagai tantangan penugasan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan yang melekat pada identitas Korps Marinir.
"Seluruh prajurit diharapkan mampu mengemban kehormatan baret ungu dengan penuh tanggung jawab, senantiasa siap menghadapi setiap tantangan, serta memberikan pengabdian terbaik demi kejayaan Korps Marinir, TNI Angkatan Laut, bangsa, dan negara," kata Rana.
Keberhasilan 752 prajurit menuntaskan pendidikan komando menjadi bagian dari proses pembinaan sumber daya manusia di lingkungan TNI AL. Setelah pembaretan, mereka diharapkan dapat menerapkan kemampuan dan kedisiplinan yang diperoleh selama pendidikan dalam pelaksanaan tugas sesuai penempatan dan kebutuhan organisasi.
Komentar